Tentang Pelangi di Ujung Matamu
Pelangi di Ujung Matamu
Aisyah baru berusia 17 tahun, tapi matanya sudah tua. Terlalu tua untuk seorang gadis seusianya.
Setiap hari, ia bangun pukul tiga pagi. Memasak bubur untuk ibunya yang terbaring lemah karena kanker stadium akhir. Lalu bergegas ke pasar menjadi kuli sayur sebelum bel sekolah berbunyi. Sore harinya, ia mencuci baju tetangga. Malamnya, ia menjaga toko kelontong. Dan di sela-sela itu semua, ia belajar untuk ujian—karena ia berjanji pada ibunya akan lulus dan kuliah.
Ibunya, Siti Rohani, adalah satu-satunya orang yang ia miliki. Ayahnya pergi saat Aisyah masih kecil, meninggalkan utang dan air mata. Kini, saat ibunya semakin dilupa ingatan oleh efek kemoterapi, Aisyah tidak hanya berjuang melawan kemiskinan dan waktu. Ia juga berjuang untuk diingat oleh orang yang paling ia cintai.
Lalu datang Bara—anak orang kaya dengan mata tajam tapi lembut. Ia diam-diam membayar listrik mereka, mengirim makanan, dan menutupi Aisyah dengan jaketnya saat ia tertidur kelelahan di koridor rumah sakit. Bara tidak pernah meminta balasan. Ia hanya ingin melihat Aisyah tersenyum.
Tapi takdir tidak pernah ramah pada orang miskin.
Ketika Aisyah akhirnya mendapat beasiswa yang selama ini ia impikan—di hari yang sama, ibunya menghembuskan napas terakhir di pangkuannya.
"Pelangi di Ujung Matamu" adalah kisah yang akan menguras habis air matamu. Tentang seorang anak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarganya sebelum waktunya. Tentang cinta seorang ibu yang perlahan-lahan hilang ingatan namun tetap menyayangi anaknya. Tentang seorang ayah yang kembali setelah belasan tahun pergi, hanya untuk meminta maaf di ambang kematiannya sendiri.
Dan tentang pelangi—yang selalu muncul setelah hujan paling deras, sebagai janji bahwa tidak ada kesedihan yang abadi.
Baca jika kamu siap menangis. Baca jika kamu percaya bahwa cinta bisa bertahan melewati kematian.











